
|
Universitas Negeri Surabaya
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Program Studi S3 Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
|
Kode Dokumen |
SEMESTER LEARNING PLAN |
Course |
KODE |
Rumpun MataKuliah |
Bobot Kredit |
SEMESTER |
Tanggal Penyusunan |
STUDI KEARIFAN LOKAL, PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DAN INTEGRASI NASIONAL |
8700103007 |
|
T=2 |
P=1 |
ECTS=7.56 |
1 |
9 April 2026 |
OTORISASI |
Pengembang S.P |
Koordinator Rumpun matakuliah |
Koordinator Program Studi |
TIM MBKM
|
TIM MBKM
|
NASUTION |
Model Pembelajaran |
Project Based Learning |
Program Learning Outcomes (PLO)
|
PLO program Studi yang dibebankan pada matakuliah |
PLO-3 |
Mengembangkan pemikiran logis, kritis, sistematis, dan kreatif dalam melakukan pekerjaan yang spesifik di bidang keahliannya serta sesuai dengan standar kompetensi kerja bidang yang bersangkutan |
PLO-6 |
Berkontribusi dalam peningkatan mutu kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan kemajuan peradaban berdasarkan Pancasila |
PLO-7 |
Mampu menemukan atau mengembangkan teori/konsepsi/ gagasan ilmiah baru, memberikan kontribusi pada pengembangan serta pengamalan ilmu pengetahuan dan/atau teknologi yang memperhatikan dan menerapkan nilai humaniora di bidang keahliannya, dengan menghasilkan penelitian ilmiah berdasarkan metodologi ilmiah, pemikiran logis, kritis, sistematis, dan kreatif |
PLO-10 |
Menghasilkan teori/konsep baru ilmu pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Sosial sebagai landasan ontologi, epistimologi, dan aksiologi pengembangan pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial melalui kepakaran riset interdisiplin, multidisiplin, dan transdisiplin |
Program Objectives (PO) |
PO - 1 |
Mahasiswa mampu menganalisis secara kritis kearifan lokal sebagai basis pengetahuan indigenous dalam perspektif filsafat pendidikan IPS untuk menemukan relevansi epistemologis, ontologis, dan aksiologisnya terhadap pengembangan teori pendidikan.
|
PO - 2 |
Mahasiswa mampu mengevaluasi teori dan praktik pendidikan multikultural dengan menggunakan pendekatan inter, multi, dan transdisipliner guna merumuskan model konseptual yang adaptif terhadap keragaman sosial budaya.
|
PO - 3 |
Mahasiswa mampu meneliti dinamika integrasi nasional dalam masyarakat majemuk melalui kajian sosio-kultural, kebijakan pendidikan, dan praktik kewarganegaraan kritis sebagai dasar penguatan kohesi sosial.
|
PO - 4 |
Mahasiswa mampu mengembangkan model pendidikan IPS transformatif berbasis kearifan lokal dan berperspektif multikultural yang berkontribusi pada penguatan integrasi nasional dan inovasi akademik di tingkat teoritis maupun praktis.
|
Matrik PLO-PO |
| |
| PO | PLO-3 | PLO-6 | PLO-7 | PLO-10 | | PO-1 | ✔ | | | | | PO-2 | | | ✔ | | | PO-3 | | | | ✔ | | PO-4 | | ✔ | | |
|
Matrik PO pada Kemampuan akhir tiap tahapan belajar (Sub-PO) |
| |
| PO |
Minggu Ke |
| 1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
6 |
7 |
8 |
9 |
10 |
11 |
12 |
13 |
14 |
15 |
16 |
| PO-1 | ✔ | ✔ | ✔ | ✔ | | | | | | | | | | | | | | PO-2 | | | | | ✔ | ✔ | ✔ | ✔ | | | | | | | | | | PO-3 | | | | | | | | | ✔ | ✔ | ✔ | ✔ | | | | | | PO-4 | | | | | | | | | | | | | ✔ | ✔ | ✔ | ✔ |
|
Deskripsi Singkat Mata Kuliah
|
Mata kuliah ini membahas secara mendalam tentang studi kearifan lokal, pendidikan multikultural, dan integrasi nasional dalam konteks pendidikan IPS tingkat doktoral. Isi perkuliahan mencakup eksplorasi filosofis dan praktis kearifan lokal sebagai basis pengetahuan indigenous, analisis kritis terhadap teori dan praktik pendidikan multikultural, serta kajian tentang dinamika integrasi nasional dalam masyarakat majemuk. Tujuan mata kuliah adalah mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam melakukan penelitian orisinal yang berkontribusi pada pengembangan teori dan praktik pendidikan berbasis kearifan lokal, memperkuat perspektif multikultural, dan memperkokoh integrasi nasional. Ruang lingkup meliputi studi komparatif kearifan lokal nusantara, analisis kebijakan pendidikan multikultural, penelitian integrasi sosio-kultural, serta pengembangan model pendidikan IPS transformatif yang responsif terhadap keragaman budaya dan tantangan kebangsaan kontemporer. |
Pustaka
|
Utama : |
|
- Banks, J. A. (2015). Cultural Diversity and Education: Foundations, Curriculum, and Teaching (6th ed.). New York: Routledge.
- Geertz, C. (1973). The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books
- Kymlicka, W. (2007). Multicultural Odysseys: Navigating the New International Politics of Diversity. Oxford: Oxford University Press.
- Mujib, A. (2016). Peran pendidikan multikultural dalam membangun integrasi nasional. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 21(1), 1–14.
- Huda, M. (2017). Multicultural education and national integration: Indonesian experience. International Journal of Islamic Educational Studies and Social Science, 1(1), 20–34.
- Suryadinata, L. (2015). Kebhinekaan dan integrasi nasional di Indonesia. Jurnal Antropologi Indonesia, 36(2), 75–88.
- Suryadinata, L. (2015). Kebhinekaan dan integrasi nasional di Indonesia. Jurnal Antropologi Indonesia, 36(2), 75–88.
- Zubaedi. (2011). Pendidikan multikultural: Upaya mengatasi konflik dalam era pluralitas. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 17(6), 676–684.
|
Pendukung : |
|
|
Dosen Pengampu
|
Dr. Sugeng Harianto, M.Si. Prof. Dr. Agus Suprijono, M.Si. Dr. Nuansa Bayu Segara, S.Pd., M.Pd. |
Minggu Ke- |
Kemampuan akhir tiap tahapan belajar
(Sub-PO)
|
Penilaian |
Bantuk Pembelajaran,
Metode Pembelajaran,
Penugasan Mahasiswa,
[ Estimasi Waktu] |
Materi Pembelajaran
[ Pustaka ] |
Bobot Penilaian (%) |
Indikator |
Kriteria & Bentuk |
Luring (offline) |
Daring (online) |
(1) |
(2) |
(3) |
(4) |
(5) |
(6) |
(7) |
(8) |
1
Minggu ke 1 |
Mahasiswa mampu merumuskan sintesis konseptual tentang posisi kearifan lokal sebagai pengetahuan indigenous dalam perspektif filsafat pendidikan IPS, dengan menunjukkan relevansi epistemologis, ontologis, dan aksiologisnya bagi pengembangan teori pendidikan yang adaptif terhadap konteks sosial budaya.” |
- Mahasiswa mampu mengidentifikasi ragam kearifan lokal dan menjelaskan karakteristiknya sebagai basis pengetahuan indigenous dalam konteks pendidikan IPS.
- Mahasiswa mampu menganalisis relevansi epistemologis kearifan lokal dalam membangun landasan pengetahuan pendidikan IPS yang kritis dan kontekstual.
- Mahasiswa mampu mengevaluasi dimensi ontologis dan aksiologis kearifan lokal untuk menemukan nilai-nilai fundamental yang dapat menopang teori pendidikan.
- Mahasiswa mampu menyusun sintesis konseptual yang mengintegrasikan kearifan lokal dengan filsafat pendidikan IPS guna memperkaya pengembangan teori pendidikan
|
Kriteria:
Penilaian didasarkan pada sejauh mana mahasiswa mampu mengidentifikasi ragam kearifan lokal secara tepat dan mendalam sebagai basis pengetahuan indigenous, menunjukkan pemahaman kritis terhadap relevansi epistemologisnya dalam kerangka filsafat pendidikan IPS, serta mampu mengevaluasi dimensi ontologis dan aksiologis secara argumentatif dengan mengaitkan nilai-nilai lokal pada pengembangan teori pendidikan. Selain itu, mahasiswa dinilai dari kemampuannya menyusun sintesis konseptual yang orisinal, logis, dan terintegrasi, sehingga menghasilkan gagasan teoritis yang adaptif terhadap keragaman sosial budaya. Kualitas penilaian mencakup kedalaman analisis, ketepatan penggunaan konsep, kemampuan mengaitkan teori dengan konteks lokal, serta kejelasan penyajian argumentasi baik lisan maupun tulisan. Bentuk Penilaian : Penilaian Hasil Project / Penilaian Produk |
Diskusi demokratis dan kolaboratif 3 X 50 |
Diskusi demokratis dan kolaboratif 3x50 |
Materi: Kebudayaan Pustaka: Geertz, C. (1973). The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books |
4% |
2
Minggu ke 2 |
Mahasiswa mampu merumuskan sintesis konseptual tentang posisi kearifan lokal sebagai pengetahuan indigenous dalam perspektif filsafat pendidikan IPS, dengan menunjukkan relevansi epistemologis, ontologis, dan aksiologisnya bagi pengembangan teori pendidikan yang adaptif terhadap konteks sosial budaya.” |
- Mahasiswa mampu mengidentifikasi ragam kearifan lokal dan menjelaskan karakteristiknya sebagai basis pengetahuan indigenous dalam konteks pendidikan IPS.
- Mahasiswa mampu menganalisis relevansi epistemologis kearifan lokal dalam membangun landasan pengetahuan pendidikan IPS yang kritis dan kontekstual.
- Mahasiswa mampu mengevaluasi dimensi ontologis dan aksiologis kearifan lokal untuk menemukan nilai-nilai fundamental yang dapat menopang teori pendidikan.
- Mahasiswa mampu menyusun sintesis konseptual yang mengintegrasikan kearifan lokal dengan filsafat pendidikan IPS guna memperkaya pengembangan teori pendidikan
|
Kriteria:
Penilaian didasarkan pada sejauh mana mahasiswa mampu mengidentifikasi ragam kearifan lokal secara tepat dan mendalam sebagai basis pengetahuan indigenous, menunjukkan pemahaman kritis terhadap relevansi epistemologisnya dalam kerangka filsafat pendidikan IPS, serta mampu mengevaluasi dimensi ontologis dan aksiologis secara argumentatif dengan mengaitkan nilai-nilai lokal pada pengembangan teori pendidikan. Selain itu, mahasiswa dinilai dari kemampuannya menyusun sintesis konseptual yang orisinal, logis, dan terintegrasi, sehingga menghasilkan gagasan teoritis yang adaptif terhadap keragaman sosial budaya. Kualitas penilaian mencakup kedalaman analisis, ketepatan penggunaan konsep, kemampuan mengaitkan teori dengan konteks lokal, serta kejelasan penyajian argumentasi baik lisan maupun tulisan. Bentuk Penilaian : Penilaian Hasil Project / Penilaian Produk |
Diskusi demokratis dan kolaboratif 3 X 50 |
Diskusi demokratis dan kolaboratif 3x50 |
Materi: Kebudayaan Pustaka: Geertz, C. (1973). The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books |
4% |
3
Minggu ke 3 |
Mahasiswa mampu merumuskan sintesis konseptual tentang posisi kearifan lokal sebagai pengetahuan indigenous dalam perspektif filsafat pendidikan IPS, dengan menunjukkan relevansi epistemologis, ontologis, dan aksiologisnya bagi pengembangan teori pendidikan yang adaptif terhadap konteks sosial budaya.” |
- Mahasiswa mampu mengidentifikasi ragam kearifan lokal dan menjelaskan karakteristiknya sebagai basis pengetahuan indigenous dalam konteks pendidikan IPS.
- Mahasiswa mampu menganalisis relevansi epistemologis kearifan lokal dalam membangun landasan pengetahuan pendidikan IPS yang kritis dan kontekstual.
- Mahasiswa mampu mengevaluasi dimensi ontologis dan aksiologis kearifan lokal untuk menemukan nilai-nilai fundamental yang dapat menopang teori pendidikan.
- Mahasiswa mampu menyusun sintesis konseptual yang mengintegrasikan kearifan lokal dengan filsafat pendidikan IPS guna memperkaya pengembangan teori pendidikan
|
Kriteria:
Penilaian didasarkan pada sejauh mana mahasiswa mampu mengidentifikasi ragam kearifan lokal secara tepat dan mendalam sebagai basis pengetahuan indigenous, menunjukkan pemahaman kritis terhadap relevansi epistemologisnya dalam kerangka filsafat pendidikan IPS, serta mampu mengevaluasi dimensi ontologis dan aksiologis secara argumentatif dengan mengaitkan nilai-nilai lokal pada pengembangan teori pendidikan. Selain itu, mahasiswa dinilai dari kemampuannya menyusun sintesis konseptual yang orisinal, logis, dan terintegrasi, sehingga menghasilkan gagasan teoritis yang adaptif terhadap keragaman sosial budaya. Kualitas penilaian mencakup kedalaman analisis, ketepatan penggunaan konsep, kemampuan mengaitkan teori dengan konteks lokal, serta kejelasan penyajian argumentasi baik lisan maupun tulisan. Bentuk Penilaian : Penilaian Hasil Project / Penilaian Produk |
Diskusi demokratis dan kolaboratif 3 X 50 |
Diskusi demokratis dan kolaboratif 3x50 |
Materi: Kebudayaan Pustaka: Geertz, C. (1973). The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books |
4% |
4
Minggu ke 4 |
Mahasiswa mampu merumuskan sintesis konseptual tentang posisi kearifan lokal sebagai pengetahuan indigenous dalam perspektif filsafat pendidikan IPS, dengan menunjukkan relevansi epistemologis, ontologis, dan aksiologisnya bagi pengembangan teori pendidikan yang adaptif terhadap konteks sosial budaya.” |
- Mahasiswa mampu mengidentifikasi ragam kearifan lokal dan menjelaskan karakteristiknya sebagai basis pengetahuan indigenous dalam konteks pendidikan IPS.
- Mahasiswa mampu menganalisis relevansi epistemologis kearifan lokal dalam membangun landasan pengetahuan pendidikan IPS yang kritis dan kontekstual.
- Mahasiswa mampu mengevaluasi dimensi ontologis dan aksiologis kearifan lokal untuk menemukan nilai-nilai fundamental yang dapat menopang teori pendidikan.
- Mahasiswa mampu menyusun sintesis konseptual yang mengintegrasikan kearifan lokal dengan filsafat pendidikan IPS guna memperkaya pengembangan teori pendidikan
|
Kriteria:
Penilaian didasarkan pada sejauh mana mahasiswa mampu mengidentifikasi ragam kearifan lokal secara tepat dan mendalam sebagai basis pengetahuan indigenous, menunjukkan pemahaman kritis terhadap relevansi epistemologisnya dalam kerangka filsafat pendidikan IPS, serta mampu mengevaluasi dimensi ontologis dan aksiologis secara argumentatif dengan mengaitkan nilai-nilai lokal pada pengembangan teori pendidikan. Selain itu, mahasiswa dinilai dari kemampuannya menyusun sintesis konseptual yang orisinal, logis, dan terintegrasi, sehingga menghasilkan gagasan teoritis yang adaptif terhadap keragaman sosial budaya. Kualitas penilaian mencakup kedalaman analisis, ketepatan penggunaan konsep, kemampuan mengaitkan teori dengan konteks lokal, serta kejelasan penyajian argumentasi baik lisan maupun tulisan. Bentuk Penilaian : Penilaian Hasil Project / Penilaian Produk |
Diskusi demokratis dan kolaboratif 3 X 50 |
Diskusi demokratis dan kolaboratif 3x50 |
Materi: Kebudayaan Pustaka: Geertz, C. (1973). The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books |
4% |
5
Minggu ke 5 |
Mahasiswa mampu merumuskan model konseptual pendidikan multikultural yang kritis dan adaptif dengan melakukan evaluasi teori dan praktik melalui pendekatan inter, multi, dan transdisipliner dalam menghadapi keragaman sosial budaya |
- Mahasiswa mampu mengkaji teori-teori pendidikan multikultural secara kritis dengan mengidentifikasi kelebihan, keterbatasan, dan relevansinya terhadap dinamika masyarakat majemuk.
- Mahasiswa mampu menganalisis praktik pendidikan multikultural di berbagai konteks sosial budaya dengan menggunakan perspektif inter, multi, dan transdisipliner.
- Mahasiswa mampu mengevaluasi kesesuaian teori dan praktik pendidikan multikultural dengan tantangan serta kebutuhan keragaman sosial budaya kontemporer
- Mahasiswa mampu merumuskan model konseptual pendidikan multikultural yang inovatif, adaptif, dan kontekstual sebagai kontribusi terhadap pengembangan teori dan praktik pendidikan IPS.
|
Kriteria:
Mahasiswa dinilai dari kemampuannya mengkaji teori pendidikan multikultural secara kritis dengan argumen yang logis, menganalisis praktik pendidikan multikultural menggunakan perspektif inter, multi, dan transdisipliner secara tepat, mengevaluasi kesesuaian teori dan praktik dengan kebutuhan keragaman sosial budaya secara reflektif, serta merumuskan model konseptual pendidikan multikultural yang adaptif, kontekstual, dan inovati Bentuk Penilaian : Penilaian Hasil Project / Penilaian Produk |
Diskusi demokratis dan kolaboratif 3 X 50 |
Diskusi demokratis dan kolaboratif 3x50 |
Materi: Multikultural Pustaka: Kymlicka, W. (2007). Multicultural Odysseys: Navigating the New International Politics of Diversity. Oxford: Oxford University Press. |
7% |
6
Minggu ke 6 |
Mahasiswa mampu merumuskan model konseptual pendidikan multikultural yang kritis dan adaptif dengan melakukan evaluasi teori dan praktik melalui pendekatan inter, multi, dan transdisipliner dalam menghadapi keragaman sosial budaya |
- Mahasiswa mampu mengkaji teori-teori pendidikan multikultural secara kritis dengan mengidentifikasi kelebihan, keterbatasan, dan relevansinya terhadap dinamika masyarakat majemuk.
- Mahasiswa mampu menganalisis praktik pendidikan multikultural di berbagai konteks sosial budaya dengan menggunakan perspektif inter, multi, dan transdisipliner.
- Mahasiswa mampu mengevaluasi kesesuaian teori dan praktik pendidikan multikultural dengan tantangan serta kebutuhan keragaman sosial budaya kontemporer
- Mahasiswa mampu merumuskan model konseptual pendidikan multikultural yang inovatif, adaptif, dan kontekstual sebagai kontribusi terhadap pengembangan teori dan praktik pendidikan IPS.
|
Kriteria:
Mahasiswa dinilai dari kemampuannya mengkaji teori pendidikan multikultural secara kritis dengan argumen yang logis, menganalisis praktik pendidikan multikultural menggunakan perspektif inter, multi, dan transdisipliner secara tepat, mengevaluasi kesesuaian teori dan praktik dengan kebutuhan keragaman sosial budaya secara reflektif, serta merumuskan model konseptual pendidikan multikultural yang adaptif, kontekstual, dan inovati Bentuk Penilaian : Penilaian Hasil Project / Penilaian Produk |
Diskusi demokratis dan kolaboratif 3 X 50 |
Diskusi demokratis dan kolaboratif 3x50 |
Materi: Multikultural Pustaka: Kymlicka, W. (2007). Multicultural Odysseys: Navigating the New International Politics of Diversity. Oxford: Oxford University Press. |
7% |
7
Minggu ke 7 |
Mahasiswa mampu merumuskan model konseptual pendidikan multikultural yang kritis dan adaptif dengan melakukan evaluasi teori dan praktik melalui pendekatan inter, multi, dan transdisipliner dalam menghadapi keragaman sosial budaya |
- Mahasiswa mampu mengkaji teori-teori pendidikan multikultural secara kritis dengan mengidentifikasi kelebihan, keterbatasan, dan relevansinya terhadap dinamika masyarakat majemuk.
- Mahasiswa mampu menganalisis praktik pendidikan multikultural di berbagai konteks sosial budaya dengan menggunakan perspektif inter, multi, dan transdisipliner.
- Mahasiswa mampu mengevaluasi kesesuaian teori dan praktik pendidikan multikultural dengan tantangan serta kebutuhan keragaman sosial budaya kontemporer
- Mahasiswa mampu merumuskan model konseptual pendidikan multikultural yang inovatif, adaptif, dan kontekstual sebagai kontribusi terhadap pengembangan teori dan praktik pendidikan IPS.
|
Kriteria:
Mahasiswa dinilai dari kemampuannya mengkaji teori pendidikan multikultural secara kritis dengan argumen yang logis, menganalisis praktik pendidikan multikultural menggunakan perspektif inter, multi, dan transdisipliner secara tepat, mengevaluasi kesesuaian teori dan praktik dengan kebutuhan keragaman sosial budaya secara reflektif, serta merumuskan model konseptual pendidikan multikultural yang adaptif, kontekstual, dan inovati Bentuk Penilaian : Penilaian Hasil Project / Penilaian Produk |
Diskusi demokratis dan kolaboratif 3 X 50 |
Diskusi demokratis dan kolaboratif 3x50 |
Materi: Multikultural Pustaka: Kymlicka, W. (2007). Multicultural Odysseys: Navigating the New International Politics of Diversity. Oxford: Oxford University Press. |
7% |
8
Minggu ke 8 |
Mahasiswa mampu merumuskan model konseptual pendidikan multikultural yang kritis dan adaptif dengan melakukan evaluasi teori dan praktik melalui pendekatan inter, multi, dan transdisipliner dalam menghadapi keragaman sosial budaya |
- Mahasiswa mampu mengkaji teori-teori pendidikan multikultural secara kritis dengan mengidentifikasi kelebihan, keterbatasan, dan relevansinya terhadap dinamika masyarakat majemuk.
- Mahasiswa mampu menganalisis praktik pendidikan multikultural di berbagai konteks sosial budaya dengan menggunakan perspektif inter, multi, dan transdisipliner.
- Mahasiswa mampu mengevaluasi kesesuaian teori dan praktik pendidikan multikultural dengan tantangan serta kebutuhan keragaman sosial budaya kontemporer
- Mahasiswa mampu merumuskan model konseptual pendidikan multikultural yang inovatif, adaptif, dan kontekstual sebagai kontribusi terhadap pengembangan teori dan praktik pendidikan IPS.
|
Kriteria:
Mahasiswa dinilai dari kemampuannya mengkaji teori pendidikan multikultural secara kritis dengan argumen yang logis, menganalisis praktik pendidikan multikultural menggunakan perspektif inter, multi, dan transdisipliner secara tepat, mengevaluasi kesesuaian teori dan praktik dengan kebutuhan keragaman sosial budaya secara reflektif, serta merumuskan model konseptual pendidikan multikultural yang adaptif, kontekstual, dan inovati Bentuk Penilaian : Penilaian Hasil Project / Penilaian Produk |
Diskusi demokratis dan kolaboratif 3 X 50 |
Diskusi demokratis dan kolaboratif 3x50 |
Materi: Multikultural Pustaka: Kymlicka, W. (2007). Multicultural Odysseys: Navigating the New International Politics of Diversity. Oxford: Oxford University Press. |
7% |
9
Minggu ke 9 |
“Mahasiswa mampu merumuskan analisis kritis tentang dinamika integrasi nasional dalam masyarakat majemuk melalui kajian sosio-kultural, kebijakan pendidikan, dan praktik kewarganegaraan kritis sebagai landasan untuk memperkuat kohesi sosial |
- Mampu mengidentifikasi dinamika integrasi nasional dalam masyarakat majemuk berdasarkan perspektif sosio-kultural
- Mampu menganalisis kebijakan pendidikan yang berpengaruh terhadap penguatan integrasi nasional dan kohesi sosial.
- Mampu mengevaluasi praktik kewarganegaraan kritis dalam membangun kesadaran multikultural dan persatuan bangsa.
- Mampu menyusun analisis konseptual tentang integrasi nasional sebagai dasar penguatan kohesi sosial yang adaptif terhadap keragaman.
|
Kriteria:
Penilaian didasarkan pada kemampuan mahasiswa dalam mengidentifikasi dinamika integrasi nasional secara akurat dengan menggunakan perspektif sosio-kultural, menganalisis kebijakan pendidikan yang relevan terhadap upaya penguatan kohesi sosial, serta mengevaluasi praktik kewarganegaraan kritis dalam membangun kesadaran multikultural. Selain itu, mahasiswa dinilai dari kualitas analisis konseptual yang disusun, mencakup kejelasan argumentasi, kedalaman refleksi, relevansi dengan konteks masyarakat majemuk, serta kontribusi gagasan terhadap penguatan integrasi nasional dan kohesi sosial. Bentuk Penilaian : Penilaian Hasil Project / Penilaian Produk |
Diskusi demokratis dan kolaboratif 3 X 50 |
Diskusi demokratis dan kolaboratif 3x50 |
Materi: Integrasi nasional Pustaka: Huda, M. (2017). Multicultural education and national integration: Indonesian experience. International Journal of Islamic Educational Studies and Social Science, 1(1), 20–34. |
7% |
10
Minggu ke 10 |
“Mahasiswa mampu merumuskan analisis kritis tentang dinamika integrasi nasional dalam masyarakat majemuk melalui kajian sosio-kultural, kebijakan pendidikan, dan praktik kewarganegaraan kritis sebagai landasan untuk memperkuat kohesi sosial |
- Mampu mengidentifikasi dinamika integrasi nasional dalam masyarakat majemuk berdasarkan perspektif sosio-kultural
- Mampu menganalisis kebijakan pendidikan yang berpengaruh terhadap penguatan integrasi nasional dan kohesi sosial.
- Mampu mengevaluasi praktik kewarganegaraan kritis dalam membangun kesadaran multikultural dan persatuan bangsa.
- Mampu menyusun analisis konseptual tentang integrasi nasional sebagai dasar penguatan kohesi sosial yang adaptif terhadap keragaman.
|
Kriteria:
Penilaian didasarkan pada kemampuan mahasiswa dalam mengidentifikasi dinamika integrasi nasional secara akurat dengan menggunakan perspektif sosio-kultural, menganalisis kebijakan pendidikan yang relevan terhadap upaya penguatan kohesi sosial, serta mengevaluasi praktik kewarganegaraan kritis dalam membangun kesadaran multikultural. Selain itu, mahasiswa dinilai dari kualitas analisis konseptual yang disusun, mencakup kejelasan argumentasi, kedalaman refleksi, relevansi dengan konteks masyarakat majemuk, serta kontribusi gagasan terhadap penguatan integrasi nasional dan kohesi sosial. Bentuk Penilaian : Penilaian Hasil Project / Penilaian Produk |
Diskusi demokratis dan kolaboratif 3 X 50 |
Diskusi demokratis dan kolaboratif 3x50 |
Materi: Integrasi nasional Pustaka: Huda, M. (2017). Multicultural education and national integration: Indonesian experience. International Journal of Islamic Educational Studies and Social Science, 1(1), 20–34. |
7% |
11
Minggu ke 11 |
“Mahasiswa mampu merumuskan analisis kritis tentang dinamika integrasi nasional dalam masyarakat majemuk melalui kajian sosio-kultural, kebijakan pendidikan, dan praktik kewarganegaraan kritis sebagai landasan untuk memperkuat kohesi sosial |
- Mampu mengidentifikasi dinamika integrasi nasional dalam masyarakat majemuk berdasarkan perspektif sosio-kultural
- Mampu menganalisis kebijakan pendidikan yang berpengaruh terhadap penguatan integrasi nasional dan kohesi sosial.
- Mampu mengevaluasi praktik kewarganegaraan kritis dalam membangun kesadaran multikultural dan persatuan bangsa.
- Mampu menyusun analisis konseptual tentang integrasi nasional sebagai dasar penguatan kohesi sosial yang adaptif terhadap keragaman.
|
Kriteria:
Penilaian didasarkan pada kemampuan mahasiswa dalam mengidentifikasi dinamika integrasi nasional secara akurat dengan menggunakan perspektif sosio-kultural, menganalisis kebijakan pendidikan yang relevan terhadap upaya penguatan kohesi sosial, serta mengevaluasi praktik kewarganegaraan kritis dalam membangun kesadaran multikultural. Selain itu, mahasiswa dinilai dari kualitas analisis konseptual yang disusun, mencakup kejelasan argumentasi, kedalaman refleksi, relevansi dengan konteks masyarakat majemuk, serta kontribusi gagasan terhadap penguatan integrasi nasional dan kohesi sosial. Bentuk Penilaian : Penilaian Hasil Project / Penilaian Produk |
Diskusi demokratis dan kolaboratif 3 X 50 |
Diskusi demokratis dan kolaboratif 3x50 |
Materi: Integrasi nasional Pustaka: Huda, M. (2017). Multicultural education and national integration: Indonesian experience. International Journal of Islamic Educational Studies and Social Science, 1(1), 20–34. |
7% |
12
Minggu ke 12 |
“Mahasiswa mampu merumuskan analisis kritis tentang dinamika integrasi nasional dalam masyarakat majemuk melalui kajian sosio-kultural, kebijakan pendidikan, dan praktik kewarganegaraan kritis sebagai landasan untuk memperkuat kohesi sosial |
- Mampu mengidentifikasi dinamika integrasi nasional dalam masyarakat majemuk berdasarkan perspektif sosio-kultural
- Mampu menganalisis kebijakan pendidikan yang berpengaruh terhadap penguatan integrasi nasional dan kohesi sosial.
- Mampu mengevaluasi praktik kewarganegaraan kritis dalam membangun kesadaran multikultural dan persatuan bangsa.
- Mampu menyusun analisis konseptual tentang integrasi nasional sebagai dasar penguatan kohesi sosial yang adaptif terhadap keragaman.
|
Kriteria:
Penilaian didasarkan pada kemampuan mahasiswa dalam mengidentifikasi dinamika integrasi nasional secara akurat dengan menggunakan perspektif sosio-kultural, menganalisis kebijakan pendidikan yang relevan terhadap upaya penguatan kohesi sosial, serta mengevaluasi praktik kewarganegaraan kritis dalam membangun kesadaran multikultural. Selain itu, mahasiswa dinilai dari kualitas analisis konseptual yang disusun, mencakup kejelasan argumentasi, kedalaman refleksi, relevansi dengan konteks masyarakat majemuk, serta kontribusi gagasan terhadap penguatan integrasi nasional dan kohesi sosial. Bentuk Penilaian : Penilaian Hasil Project / Penilaian Produk |
Diskusi demokratis dan kolaboratif 3 X 50 |
Diskusi demokratis dan kolaboratif 3x50 |
Materi: Integrasi nasional Pustaka: Huda, M. (2017). Multicultural education and national integration: Indonesian experience. International Journal of Islamic Educational Studies and Social Science, 1(1), 20–34. |
7% |
13
Minggu ke 13 |
“Mahasiswa mampu merumuskan model pendidikan IPS transformatif yang berbasis kearifan lokal dan berperspektif multikultural, serta mengintegrasikannya secara teoritis dan praktis untuk memperkuat integrasi nasional dan mendorong inovasi akademik.” |
- Mampu menganalisis kearifan lokal sebagai basis pengembangan pendidikan IPS yang transformatif.
- Mampu mengkaji perspektif multikultural dalam pendidikan IPS untuk memperkuat integrasi nasional
- Mampu merancang model konseptual pendidikan IPS yang inovatif dengan memadukan kearifan lokal dan perspektif multikultural.
- Mampu mengintegrasikan model pendidikan IPS transformatif dalam tataran teoritis maupun praktis untuk menghasilkan kontribusi akademik dan sosial.
|
Kriteria:
Mahasiswa dinilai berdasarkan kemampuannya menganalisis kearifan lokal dan perspektif multikultural untuk pendidikan IPS transformatif, merancang model konseptual yang inovatif, serta mengintegrasikan model tersebut secara teoritis dan praktis untuk memperkuat integrasi nasional dan memberikan kontribusi akademik yang relevan. Bentuk Penilaian : Penilaian Hasil Project / Penilaian Produk |
Diskusi demoratis dan kolaboratif 3 X 50 |
Diskusi demokratis dan kolaboratif 3x50 |
Materi: Pendidikan multikultural dan integrasi nasional Pustaka: Mujib, A. (2016). Peran pendidikan multikultural dalam membangun integrasi nasional. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 21(1), 1–14. |
7% |
14
Minggu ke 14 |
“Mahasiswa mampu merumuskan model pendidikan IPS transformatif yang berbasis kearifan lokal dan berperspektif multikultural, serta mengintegrasikannya secara teoritis dan praktis untuk memperkuat integrasi nasional dan mendorong inovasi akademik.” |
- Mampu menganalisis kearifan lokal sebagai basis pengembangan pendidikan IPS yang transformatif.
- Mampu mengkaji perspektif multikultural dalam pendidikan IPS untuk memperkuat integrasi nasional
- Mampu merancang model konseptual pendidikan IPS yang inovatif dengan memadukan kearifan lokal dan perspektif multikultural.
- Mampu mengintegrasikan model pendidikan IPS transformatif dalam tataran teoritis maupun praktis untuk menghasilkan kontribusi akademik dan sosial.
|
Kriteria:
Mahasiswa dinilai berdasarkan kemampuannya menganalisis kearifan lokal dan perspektif multikultural untuk pendidikan IPS transformatif, merancang model konseptual yang inovatif, serta mengintegrasikan model tersebut secara teoritis dan praktis untuk memperkuat integrasi nasional dan memberikan kontribusi akademik yang relevan. Bentuk Penilaian : Penilaian Hasil Project / Penilaian Produk |
Diskusi demoratis dan kolaboratif 3 X 50 |
Diskusi demokratis dan kolaboratif 3x50 |
Materi: Pendidikan multikultural dan integrasi nasional Pustaka: Mujib, A. (2016). Peran pendidikan multikultural dalam membangun integrasi nasional. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 21(1), 1–14. |
7% |
15
Minggu ke 15 |
“Mahasiswa mampu merumuskan model pendidikan IPS transformatif yang berbasis kearifan lokal dan berperspektif multikultural, serta mengintegrasikannya secara teoritis dan praktis untuk memperkuat integrasi nasional dan mendorong inovasi akademik.” |
- Mampu menganalisis kearifan lokal sebagai basis pengembangan pendidikan IPS yang transformatif.
- Mampu mengkaji perspektif multikultural dalam pendidikan IPS untuk memperkuat integrasi nasional
- Mampu merancang model konseptual pendidikan IPS yang inovatif dengan memadukan kearifan lokal dan perspektif multikultural.
- Mampu mengintegrasikan model pendidikan IPS transformatif dalam tataran teoritis maupun praktis untuk menghasilkan kontribusi akademik dan sosial.
|
Kriteria:
Mahasiswa dinilai berdasarkan kemampuannya menganalisis kearifan lokal dan perspektif multikultural untuk pendidikan IPS transformatif, merancang model konseptual yang inovatif, serta mengintegrasikan model tersebut secara teoritis dan praktis untuk memperkuat integrasi nasional dan memberikan kontribusi akademik yang relevan. Bentuk Penilaian : Penilaian Hasil Project / Penilaian Produk |
Diskusi demoratis dan kolaboratif 3 X 50 |
Diskusi demokratis dan kolaboratif 3x50 |
Materi: Pendidikan multikultural dan integrasi nasional Pustaka: Mujib, A. (2016). Peran pendidikan multikultural dalam membangun integrasi nasional. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 21(1), 1–14. |
7% |
16
Minggu ke 16 |
“Mahasiswa mampu merumuskan model pendidikan IPS transformatif yang berbasis kearifan lokal dan berperspektif multikultural, serta mengintegrasikannya secara teoritis dan praktis untuk memperkuat integrasi nasional dan mendorong inovasi akademik.” |
- Mampu menganalisis kearifan lokal sebagai basis pengembangan pendidikan IPS yang transformatif.
- Mampu mengkaji perspektif multikultural dalam pendidikan IPS untuk memperkuat integrasi nasional
- Mampu merancang model konseptual pendidikan IPS yang inovatif dengan memadukan kearifan lokal dan perspektif multikultural.
- Mampu mengintegrasikan model pendidikan IPS transformatif dalam tataran teoritis maupun praktis untuk menghasilkan kontribusi akademik dan sosial.
|
Kriteria:
Mahasiswa dinilai berdasarkan kemampuannya menganalisis kearifan lokal dan perspektif multikultural untuk pendidikan IPS transformatif, merancang model konseptual yang inovatif, serta mengintegrasikan model tersebut secara teoritis dan praktis untuk memperkuat integrasi nasional dan memberikan kontribusi akademik yang relevan. Bentuk Penilaian : Penilaian Hasil Project / Penilaian Produk |
Diskusi demoratis dan kolaboratif 3 X 50 |
Diskusi demokratis dan kolaboratif 3x50 |
Materi: Pendidikan multikultural dan integrasi nasional Pustaka: Mujib, A. (2016). Peran pendidikan multikultural dalam membangun integrasi nasional. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 21(1), 1–14. |
7% |